KENAPA HARUS KE PANGERSA ABAH(KH.Drs. Jujun Junaedi)

Kita semua termasuk yang dari Malaysia dan Singapura datang ke Pondok Pesantren Suryalaya atas kehendak Allah dan tidak diundang Pangersa Abah. Kita hadir ke sini dikarenakan sangat membutuhkan barokahnya. Oleh karena itu walaupun dari Malaysia dan Singapura terasa dekat karena kebutuhan di atas. Sebaliknya banyak juga orang dekat terasa jauh akibat tidak ada kebutuhan terhadap barokah tadi.
Hal demikian sudah ada sejak jaman Nabinya, dimana ajaran Islam menyebar ke berbagai pelosok tetapi pamannya sendiri tidak mau mengikutinya, bahkan sampai waktu kematiannya, Nabi Muhammad SAW tidak berhak untuk memberinya hidayah. Sebagaimana ditegaskan Allah : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashash :56).

Kita beruntung hadir kesini atas kehendak Allah SWT. Mengapa datang ke sini ? dan mengapa harus ke Pangersa Abah ? Padahal banyak Kyai atau pesantren yang lebih bagus seperti di Bandung dan di tempat lain. Itulah keunikannya, banyak orang sekarang yang merasa “sok tahu”, padahal kita sangat membutuhkan petunjuk dan orang yang menunjukkannya. Tentunya orang yang menunjukkan adalah orang yang sudah tahu, bahkan mungkin orang sana yang datang ke sini yang disebut Mursyid.

Ibarat ada 2 orang yang satu ingin pergi dari Tasik ke Cianjur dan yang satu lagi ingin pergi sari Tasik ke Bandung. Lalu berangkatlah orang yang ingin ke Cianjur itu bersama seorang penunjuk jalan yang sudah tahu Cianjur bahkan berasal dari Cianjur. Sedangkan orang yang ingin pergi ke Bandung pergi sendirian tanpa petunjuk jalan, padahal baru pertama akan pergi ke Bandung serta tidak tahu sama sekali tentang Bandung. Dari kedua orang diatas mana yang paling cepat sampai tujuan ? tentu orang yang pergi ke Cianjur, sehingga tidak perlu banyak bertanya dijalannya dan tidak mungkin kesasar. Sebaliknya orang yang pergi ke Bandung yang pergi sendirian dan tidak tahu jalan malah kesasar.
Ternyata orang yang ke Bandung itu ingin pergi ke Alun-alun Bandung. Tetapi kesasar malah pergi ke Gasibu. Begitu sampai di lapangan Gasibu dia berkata : “Ini dia sudah sampai di alun-alun Bandung”, padahal bukan. Lalu ada orang yang mengingatkan bahwa alun-alun Bandung itu bukan disini, terus ditunjukkan jalan ke alun-alun Bandung depan Masjid, malah berkata : “Bohong ini ! masa alun-alun tidak ada lapangannya dan malah dipenuhi toko-toko ? Demikianlah gambaran orang hidup di dunia tanpa Guru Mursyid.

Banyak orang bertanya mengapa ke Pondok Pesantren Suryalaya? Padahal banyak pesantren yang lebih besar dan lebih terkenal. Sebenarnya kita pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya ini tujuannya adalah ingin diakui murid oleh Pangersa Abah, dimana Beliau sendiri sebagai Mursyidnya. Dan kita kesini (Pondok Pesantren Suryalaya) ingin belajar Tarekat yang selama ini oleh para penjajah dibiaskan serta dipisah-pisahkan dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
Islam asalnya bulat, tetapi begitu datang ke Indonesia tidak bulat lagi akibat para penjajah. Islam yang benar adalah terdiri dari Iman, Islam dan Ihsan. Iman dipelajari dalam Ilmu Tauhid (Aqoid), Islam dipelajari dalam Ilmu Fiqh, dan Ihsan dipelajari dalam Ilmu Tasawuf.

Maka apabila kita mempelajari Tauhid, pasti akan menemukan Firqoh, dan apabila mempelajari Fiqh akan menemukan madzhab. Begitu juga apabila mempelajari Tasawuf, pasti akan menemukan Thariqot (tarekat). Sebenarnya kita itu baru bicara : “Biar terpetik hasilnya dan diambil buahnya”. Seharusnya diteruskan dimakan itu buahnya biar terasa nikmatnya.
Maka di Pondok Pesantren Suryalaya bukan sekedar untuk mengisi kepada, tetapi yang lebih penting mengisi hati. Seperti dalam sholat : bacaannya Fasih, apakah sudah merasakan nikmatnya Shalat ? sudahkan kita merasakan nikmat dikala berkumandang Adzan ? lalu diaplikasikan dalam tindakan dengan langsung ke masjid. Bahkan di Pondok Pesantren Suryalaya diajarkan dan dicontohkan oleh Guru Mursyid sebelum berkumandang adzan sudah siap dan duduk ditempat sujud. Inilah bedanya, dimana sebelum ke Pondok Pesantren Suryalaya setelah adzan itu lalu mengumandangkan sholawat sambil menunggu Sang Imam (Kyai) datang ke mesjid atau menunggu orang yang sedang shalat sunat. Sehingga melaksanakan sholat wajibnya diakhir waktu.

Seorang Guru Mursyid telah mengajarkan agar kita siap menghadap Allah sebelum waktunya datang. Hal ini sebagai tanda bahwa kita telah siap tatap muka dan ridho serta tunduk terhadap aturan Allah, yang dibuktikan dengan perbuatan. Karena Allah sendiri telah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) itu dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali”. (An-Nisa : 142).

Apakah kita termasuk diantara mereka (munafik) ? ketika mendengar adzan, malah berkata :”Ah gila ! sedang asyiknya Adzan”. Mengapa mereka berbuat seperti itu ? kata Allah karena mereka hanya berdzikir kepada Allah sedikit sekali. Mengapa mereka berdzikir sedikit kepada Allah? Karena mereka hanya mengandalkan dzikir dengan lisannya saja. Dzikirnya hanya didalam mesjid, begitu keluar dari mesjid otomatis berhenti dzikirnya. Padahal Allah SWT telah menyuruh kita untuk terue menerus dzikir kepada-Nya dalam keadaan apapun. Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 191 : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaanlangit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau meciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami darisiksa neraka”.

Dalam ayat diatas Allah menyebut dengan gelar Ulil Albab, yaitu para ilmuwan yang selalu berdzikir kepada Allah. Kerena berpikir tanpa diikuti berdzikir akan “ngaco”, sehingga banyak dari para ilmuwan itu tidak memberikan manfaat banyak dalam kehidupan. Itulah sebabnya, motto IAILM adalah “Ilmu Amaliyah-Amal Ilmiah”. Ilmu tanpa amal tidak memberikan manfaat.
Lebih penting lagi bahwa tidak ada jaminan bagi orang pintar masuk surga. Berbeda kepada orang yang selalu berdzikir kepada Allah sudah dijamin masuk surga. Maka orang bodoh mau beramal lebih baik daripada orang pintar tidak mau beramal. Akan tetapi kalau merasa bodoh jangan diam saja, harusnya mau bertanya dan belajar. Adapun bisa tidaknya itu urusan Allah.

Bagaimana agar bisa berdzikir yang tidak pernah berhenti? Ilmulah sebenarnya jawaban mengapa kita harus pergi ke Pangersa Abah, di Pondok Pesantren Suryalaya bisa menemukan dzikir yang bisa dibawa kemana-mana : dibawa ke WC? Kalau tidak pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya kita tidak tahu. Padahal seandainya ketika di dalam WC itu datang kematian, tentu akan merugi kalau tidak sedang berdzikir kepada Allah. Maka Allah menegaskan : “Sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal (kematian)”. (Al Hijr : 99).
Tujuan hidup kita tidak lain : “Ya Tuhanku Hanya Engkaulah yang kumaksud, dan keridhoan-Mulah yang kucari. Berilah aku kemampuan untuk mencintai dan ma’rifat kepada-Mu”.

Jangan sekali-kali kita berjalan dari makhluk ke makhluk, tetapi berjalanlah dari makhluk kepada yang menciptakan makhluk. Lebih tegas lagi dalam surat Al-Kahfi : 17 disebutkan : “Dan yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tak akan mendapatkan Wali Mursyid yang memberi petunjuk”.

Kita tinggal mengamalkannya, karena wali Mursyid telah menunjukkan jalan dan telah memberi alatnya. Barang siapa lagi yang akan dijadikan figur selain Beliau ?

About these ads

40 comments on “KENAPA HARUS KE PANGERSA ABAH(KH.Drs. Jujun Junaedi)

  1. Bener orang bilang mau jalan ke suatu tenpat pasti awalnya ada yang menunjukan yaitu mursyid untuk petunjuk rohani pada saat ini. Terima kasih

  2. KOMENTAR BAY’AT BERITA PALSU
    Assalamualaikum, saya adalah salah seorang pengikut Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin ra. yg lebih dikenal sebagai Abah Anom. Saya terus terang merasa tercengang dan merasa heran dengan tulisan dan pernyataan dalam tulisan di bawah foto kunjungan Syeikh Hisyam ke Suryalaya dengan jabatan tangan antara Syeikh Hisyam dengan Abah Anom di http://www.al-falah.or.id dan di http://ariefhamdani.blogspot.com Menurut saya pada saat itu bukan dilakukan bay’at sebab itu hanya jabat tangan silaturahmi diantara sesama Mursyid, sebab saya mendengar dari orang yg berada disana yakni KH.Wahfiudin yang duduk diantara Abah Anom dan Syeikh Hisyam selaku penerjemah tidak pernah terlontar dari pernyataan beliau bahwa pada saat itu Syeikh Hisyam membaiat Abah. Apalagi diceritakan seluruh jamaah disana mengangkat tangan untuk dibay’at oleh Syekh Hisyam. Yang kenyataannya tidak ada jamaah TQN yang di bay’at pada waktu itu. Sebab pertama logikanya, jika Abah Anom dan murid-muridnya di bay’at dan diperbaharui lagi Thoriqatnya maka amalan Thoriqat itu pasti ada perubahan untuk seluruh jamaah pangikut TQN Suryalaya yang jumlahnya sudah mencapai puluhan juta tapi kenyataannya amalan TQN Suryalaya tidak ada perubahan sedikitpun, yakni amalannya sama dari dulu sampai sekarang dan yang ke dua mana ada Mursyid yang sudah berdiri sendiri dalam silsilah Thoriqotnya dibaiat kembali oleh sesama Mursyid dari Thoriqoh lain? Abah Anom adalah Mursyid dengan silsilah ke 37 dari dua silsilah Thoriqoh yg sudah berdiri sendiri. Beliau dibay’at oleh Ayahandanya yg pada zamannya sebagai Mursyid yakni Syeikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad ra. Sebab dalam Thoriqoh Qodiriyyah yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir mengatakan bahwa “seseorang yg sudah mencapai tingkatan tertinggi yakni Mursyid dalam Thoriqot Qodiriyyah, ia sudah tidak lagi membutuhkan Musryid yg lain, sebab sudah langsung bimbingan dari Allah”.Itu perkataan Syeikh Abdul Qodir Qs.
    Terus terang dengan tulisan yg menyatakan tentang Abah Anom untuk pertama kalinya jamaah mendengar suara Pangersa Abah Anom, menurut saya itu mungkin berlaku bagi hadirin yg baru mendengarnya artinya abah anom berdoa bukan pertama kali , sebab Pangersa Abah memang tidak sembarangan berkomentar ataupun berdoa, namun itu dilakukan tidak pada saat itu saja sudah sering Pangersa Abah mengeluarkan suaranya. Saya mohon kerendahan hati, agar tidak membuat pernyataan yg timpang sebelah di http://www.al-falah.or.id , Saya hanya mengharapkan klarifikasi kebenaran yang terjadi disana di Suryalaya ketika Syekh Nazim dan Abah Anom tanpa pemberitaan yang dibuat-buat. Karena dikhawatirkan pemberitaan yang salah dalam blog tersebut akan menjadi dampak yang negatif terhadap jamaah 2 Thoriqoh besar dari Thoriqoh Syekh Nazim dan Abah Anom termasuk Pondok Pesantren al-Falah Cicalengka mama Syahid. Kita sebagai orang muslim pengikut Rosul dan mursyidnya yang telah mengetahui akan Allah yang Maha Kasih Sayang dan Allah mengetahui atas segala perbuatan makhluq dan setiap langkah bumi langit yang indah ini akan menjadi saksi kita atas perbuatan yang kita lakukan.
    Kita sebagi orang yang memiliki dasar pesantren mengetahui hukum Islam Publikasi dengan ketidak benaran membohongi jutaan umat adalah dosa besar, apalagi dikhawatirkan diposting atau di link ke blog lain bertambah penyebaran dosa, hal itu gara-gara ada blog atau pesantren sebagai pengadu domba umat.
    Oleh sebab itu kita sebagai muslim mari kita sama-sa menjungjung kebenaran yang dilandasi ridlo Allah, saya berharap untuk mengklarifikasi tulisan dan photo-photo untuk menjaga dampak yang negatif kepada jamaah dan pesantren dikarenakan blog mama syahid diPesantren Al-Falah Cicalengka yang mempelajari Islam yang dibuat. Dan untuk klarifikasi bisa juga ditanyakan langsung kepada salah satu orang yang sering membantu atau dipinta Syekh Kabani dalam menerangkan thoriqat kepada jamaah haqqani di Jakarta. Beliau ini termasuk salah satu wakil talqin dzikir TQN juga Muballigh Internasional di Thoriqah Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah selain muballigh pengisi komentar acara di sinetron religi HIDAYAH TPI , beliau pulalah yang diminta syekh Nazim untuk minta mendampingi diantar ke Suryalaya bersilaturahmi dengan Mursyid besar 2 Thoriqat. Menurut beliau Syekh Nazim memandang Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom) adalah wali agung di timur jauh. Bahkan ada berita baik bahwa KH.Wahfiuddin telah mengklarifikasi didepan sebagiaan jamaah Haqqani bahwa abah di bey’at itu berita yang salah..
    Sebab, bagi saya semua Mursyid mempunyai kedudukan mulia dihadapan Allah. Saya hanya berharap kita bisa saling menghormati dengan ajaran masing-masing, tidak ada fanatisme yg berlebihan sehingga menyebabkan pengikut ajaran Thoriqoh yg lain merasa direndahkan. Saya mohon maaf yg sebesar-besarnya dengan kelancangan komentar ini, hanya saja saya ingin memberi klarifikasi dengan kondisi yg sebenarnya. Terima kasih, Wassalamu’alaikum.wr.wb

  3. Bismilllahirrohmanirrohim…

    Banyak memang orang orang yang tidak suka dengan Torekat dan yang akhirnya membuat suatu pernyataan yang mereka sendiri tidak menyaksikannya secara langsung..menurut saya sebagai orang yang faqir dalam ilmu tasawuf dan toriqoh ini…saya hanya menghimbau…lebih baik kita tingkatkan amal dan ibdah kita kepada mursyid masing masing agar tercapai apa yang kita kehendaki..yaitu ketenangan dan mendapatkan barokahnya…amin…JANGANLAH KITA MEMBUAT STATEMENT YANG AKHIRNYA AKAN BERDAMPAK KEPADA KITA SECARA BATINIAH…MAAF MAAF TAKUT TAKUT TERKENA BALA BENCANA…karena apa yang di lakukan antar PARA WALI ALLOH kita tidak dapat mengetahuinya…dengan kasat mata …hanya merekalah yang tahu dan tentunya ALLOH AZZA WA JALA….trims

  4. @andy
    Hati-hati karena banyak yang mengaku-aku sebagai ikhwan TQN, yang seakan-akan suaranya mewakili lembaga TQN sendiri atau seakan-akan dia telah diberi mandat oleh Pangersa Abah untuk “meluruskan” atau tindakan apapun, tanpa mau menunjukkan siapa sebenarnya jati-dirinya. Siapa tahu orang tersebut adalah yahudi yang menyamar sebagai murid atau orang sok tahu yang kemudian mengatasnamakan TQN akibatnya karena kebodohannya itu justru akan memancing hal-hal yang tak diinginkan.

    @ikhwan
    Jika benar anda seorang Ikwan sadarilah posisi anda berada dimana, seorang Ikwan jangan bertindak sekan-akan sudah menjadi murid atau badal dan bahkan mursyid, dengan adab soktahu seperti itu, jangankan anda bertindak atas nama TQN, untuk menjadi murid pun belum tentu diterima. Hati-hati dalam bertindak dan berbicara. Serahkan hal tersebut pada orang yang memiliki kompentensi mengenai masalah ini. Bukan dengan obral omongan ditempat umum, yang justru kelakuan anda menyebabkan tersebarnya fitnah dan namimah. Apa masih belum cukup kata2 ini bagi Anda? “Bahkan ada berita baik bahwa KH.Wahfiuddin telah mengklarifikasi didepan sebagiaan jamaah Haqqani bahwa abah di bey’at itu berita yang salah”

    Jika benar Anda mengerti hukum Islam Publikasi, tentulah anda tidak memakai adab yahudi dalam mengklarifikasikan sesuatu, datangi secara baik-baik (dengan adab Islam) ke Al Falah atau Yayasan Haqani untuk bertabayun, pasti anda akan diterima dengan baik, apalagi keduanya adalah lembaga resmi. Bukan dengan omong kiri-kanan, fitnah kiri-kanan di tempat umum, spam sana spam sini, untuk menarik perhatian. Anda yang katanya mengerti hukum Islam Publikasi tentu tahu tahapan klarifikasi, langkah pertama anda tanyakan kepada orang yang berkompentesi dalam hal ini, misalnya ke Ajengan Gaos atau jika saja memungkinkan ke Pangersa Abah. Kemudian minta nasihatnya tanyakan hal apa yang mesti dilakukan, jika kemudian diberi mandat resmi silakan teruskam, temui Mama Syahid dan disana apakah anda akan katakan bahwa anda diberi mandat oleh meluruskan dan memberi dalil-dalil seperti yang dituliskan di coomet Blog ini? atau ketika berkoresponden dengan fihak Haqani dan Syaikh Mawlana Nadzim dan minta kejelasan tentang hal tersebut secara RESMI apakah juga demikian?

    @ikhwan kelakuan anda pas sekali pada point 1 s/d 3 di bawah ini, sebetulnya saya ingin menolong Anda, tetapi menurut Imam Al Ghazali penyakit anda tak mungkin disembuhkan.

    Nasihat Imam Al Ghazali. Hal yang harus kau tinggalkan adalah sebagai berikut.

    Meninggalkan perdebatan sedapat mungkin dan/atau menegakan hujah (alasan) bagi setiap orang yang menyebutkan suatu permasalahan, karena dalam hal ini mengandung banyak tanda, di mana dosanya lebih banyak dari pada manfaatnya. Mengapa dosanya lebih hanyak, karena hal itu menjadi sumber bagi setiap akhlak yang jelek, seperti riya, hasud, sombong, dendam, permusuhan dan ujub.
    Memang benar seandainya muncul suatu masalah antara dirimu dengan seseorang atau sekelompok orang, sedangkan kau bermaksud mempertegas dan memenangkan kebenaran, sehingga kebenaran tidak tersia-sia, maka kau boleh membahas dan mendiskusikannya, Akan tetapi, hal ini pun harus memiliki dua tanda:
    pertama engkau tidak mengubah sikap dan tidak membeda-bedakan antara apakah kebenaran itu muncul dari lidahmu atau teman diskusimu, Bahkan engkau akan merasa senang bila ternyata bila kebenaran itu justru tersingkap dari teman diskusimu. Sebab penerimaannya terhadap apa-apa yang bersumber dari dirinya akan lebih mudah diterima olehnya daripada apa yang bersumber darimu.
    kedua diskusi di tempat yang sunyi lebih kau sukai daripada di tempat umum yang ramai. Jika kau mengatakan suatu masalah dan kau tahu bahwa kebenaran berada dipihakmu sementara dia mencemoohkan atau melecehkan, berhati-hatilah menegakan hujah dihadapannya. Tinggalkanlah dia sebab tidak ada faedah bersamanya, justru kau akan mendapat faedah bila meninggalkannya.
    Ketahuilah, mempertanyakan sesuatu yang sulit sama halnya dengan menyodorkan penyakit hati kepada seorang dokter, dan jawaban untuk pertanyaan itu merupakan salah satu upaya atau terapi menyembuhkan penyakit.
    Ketahuilah, mempertanyakan sesuatu yang sulit sama halnya dengan menyodorkan penyakit hati kepada seorang dokter, dan jawaban untuk pertanyaan itu merupakan salah satu upaya atau terapi menyembuhkan penyakit.

    Ketahuilah, orang yang bodoh adalah orang yang hatinya sakit, sedangkan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya adalah seorang dokter. Ulama yang kurang ilmu, terapinya tidak mustajab. Sedangkan ulama yang sempuma, belum tentu mampu menyembuhkan setiap penyakit, tetapi hanya mampu menyembuhkan penyakit orang yang memang mengharapkan kesembuhan dan kebaikan. Jika penyakitnya sudah kronis atau akut, maka sulit diharapkan kesembuhannya. Dalam hal ini, seorang dokter atau tabib cukup mengatakan, “Ini tidak mungkin disembuhkan.” Karena itu, engkau jangan disibukkan dengan mengobatinya karena hanya menyia-nyiakan umur.
    Kemudian ketahuilah, penyakit bodoh ada empat macam. Tiga bisa disembuhkan, sedangkan sisanya tidak.

    1. Penyakit bodoh yang paling tidak bisa menerima kesembuhan, adalah penyakit yang orang bodoh yang bersumber dari penyakit hasud dan marah dalam dirinya. Ketika pertanyaan yang diiringi oleh hasud itu dijawab dengan jawaban yang sangat jelas, baik dan tepat, orang itu tetap saja tidak akan menerima. tetapi semakin marah, memusuhi dan hasud. Maka jawaban yang terbaik untuk persoalan ini adalah tidak menjawabnya. Alias diam. “Setiap permusuhan bisa diharapkun kesembuhannya. Kecuali permusuhan yang muncul dari hati yang hasud” Oleh sebab itu, kau harus menghindar dari masalah ini, meninggalkan orang yang punya jiwa seperti ini dan tidak perlu menanggapinya. Biarkanlah ia dengan penyakit hatinya. Allah swt. berfirman: “Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (QS. Al Najm: 29). Hasud yang menjadi pemicu ucapan dan tindakan hanya akan menyalakan api dalam kebun ilmunya. Hasud memakan kebaikan sebagaimana api yang memakan kayu.
    2. Penyakit bodoh yang bersumber dari kedunguan. Penyakit ini pun tidak bisa disembuhkan, sebagaimana yang dikatakan Isa as: “Saya mampu menghidupkan orang mati, tetapi saya tidak mampu mengohati penyakit tolol.” Orang dungu adalah orang yang sibuk mencari ilmu dalam waktu yang singkat dan dangkal, dan samasekali tidak mempelajari ilmu yang rasional dan syar’iy, kemudian karena kedunguannya ia bertanya dan memprotes seorang ulama hebat yang sepanjang usianya telah digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu rasional dan syar’iy. Inilah orang dungu yang tidak tahu dan tidak menduga bahwa sesuatu yang menyulitkannya juga menjadi persoalan yang menyulitkan orang alim hebat. Jika ia tidak tahu kapasitas dirinya, maka pertanyaan yang dilontarkannya, muncul adalah cermin dari kedunguannya. Karena itu, haruslah kau berpaling dari orang yang seperti ini dan tak perlu membuang waktu untuk sibuk memikirkan jawabannya.
    3. Penyakit bodoh dari orang oportunis. Orang oportunis yang selalu mencari petunjuk kepada beberapa orang yang tidak memiliki keahlian untuk memahami perkataan orang-orang terkemuka. Dia bertanya mengenai hal-hal yang tidak jelas agar mendapat manfaat (keuntungan pribadi) dari jawaban yang diberikan. Akan tetapi, karena keterbatasan pemahamamnya ia tidak mengetahui hakikatnya, Karena itu engkau tidak perlu memberikan jawaban kepadanya. Rasulullah saw. bersabda: “Kami adalah kelompok para Nabi yang diperintahkan berbicara kepada manusia menurut ukuran. (kemampuan) akal mereka.”
    4. Adapun penyakit bodoh yang masih bisa disembuhkan adalah penyakit bodoh yang diderita orang berakal yang giat mencari petunjuk dan pemahaman. Ia tidak dikalahkan oleh hasud, nafsu amarah, senang syahwat,kehormatan dan harta. Ia adalah pencari kebenaran. Pertanyaan-pertanyaannya tidak lahir dari perasaan hasud, juga tidak bermaksud untul menyusahkan atau menguji. Penyakit bodoh ini bisa disembuhkan, dan yang ditanya boleh memikirkan jawabannya, bahkan wajib menjawab pertanyaannya

  5. @ikhwan, kayaknya sih bukan ikhwan TQN, karena nasihat Pangersa Abah yang selalu ditekankan adalah “ulah sok moyok pamake batur” dan sebagian besar ikhwan TQN pasti tahu artinya.

  6. comment: KOMENTAR BAY’AT BERITA PALSU.
    Gw juga pernah dapat spam dari yang mengaku Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id seperti dituliskan di comment tapi gw gak begitu aja percaya yang disampaikan. Gw check dulu. Pertama gw check dulu siapa yang menyampaikan berita, apa benar ada Ikwhan TQN dengan alamat email ikhwan_tqn@yahoo.co.id merupakan jama’ah TQN, setelah gw check ternyata gak Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id yang menjadi murid atau jama’ah TQN.
    Trus gw check britanya, ternyata sumber brita utamany berasal dari http://www.islamicsupremecouncil.org/country_reports/World_Tour_2001/Indonesia/May5/default.htm disit ada kata2 – Just before leaving, Mawlana Shaykh Nazim prayed two rakats after which he went to Abah Anom and gave him initiation into the Naqshbandi-Haqqaniyya tariqat. – Karena berita itu keluar dari lembaga resmi, jadi gw milih diem, karena gw gak punya wewenang utk komentar. sedangkan kejadian tersebut terjadi tahun 2001 dan selama itu lembaga resmi TQN pun gak komentar… eeeh tiba2 muncul Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id apa urusannya? kenapa mesti megurus yang bukan urusannya.

    Gw yakin ikhwan ni tukang kibul, dia mengaku ngerti hukum Islam Publikasi. tapi liat “Bahkan ada berita baik bahwa KH.Wahfiuddin telah mengklarifikasi didepan sebagiaan jamaah Haqqani bahwa abah di bey’at itu berita yang salah” Bagi orang yang ngerti hukum Islam Publikasi pasti tahu arti 1 H + 5 W + tabayun. Jika berita itu benar, minimal memenuhi syarat 3W When: terjadi dimana, Where: kapan dan Who: siapa saja saksinya. Gak perlu dibahas lebih dalam, dnga analisa sederhana saja gw yakin yang disampaikan Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id tsb adalah BOHONG. kesimpulanya justru dia sendri yang nyebarin BERITA PALSU. Penyebutan tokoh terkenal di commentnya makin menunjukan kebohongannya, karena mengandung Falacy yang disebut dengan Ipse Dixit. (gw yakin si Ikhwan TQN ikhwan_tqn@yahoo.co.id gak ngerti istilah ini, karena gw sendiri baru denger istilah hukum Islam Publikasi)

    @@@ Ikhwan, gw liat gaya bahasa yang loe pake kok kayak gaya bahasa segolongan orang yang suka bilang bid’ah ke golongan lain. Gw kasi tau ya, gak pernah ada dalam sejarahnya perpecehan dalam sufi sekalipun beda tarekat. Beda sekali dengan segolongan macam loe yang suka bilang bid’ah, jangankan dengan golongan lain dengan golongan mereka sendiripun mereka saling cakar. Jadi jangan coba2 adu domba diantara kami.

    @@@ admin sebaiknya hati2 memuat komentar yang tak jelas asal-usulnya, terutama untuk masalah yuang sensitif, bisa malaah terjebak turut serta menyiarkan fitnah.

  7. comment: KOMENTAR BAY’AT BERITA PALSU.
    Melanjutkan komentar sebelumnya, saya merasa perlu untuk melanjutkan pembahasan. Pembahasan yang saya lakukan merujuk kepada beberapa buku yang membahas tentang tashawuf. Hipotesis yang saya ajukan adalah murni pendapat pribadi saya, lembaga TQN ataupun Haqqani sama sekali tidak terkait dengan hipotesis yang saya ajukan. Hipotesis yang saya ajukan adalah kajian ilmiah yang didasari referensi yang ada. Jika Hipotesis saya ternyata keliru, saya tak keberatan untuk meralatnya.

    Pembahasan ditujukan kepada para salikin yang menurut Nasihat Imam Ghazali masuk ke point ke empat (Nasihat tersebut ada di komentar saya sebelumnya di atas, dimana hal tersebut dikutip dari buku Imam Ghazali yang berjudul Risalah at-Tashawuf)

    Pembahasan dimaksudkan agar jangan ada yang terpancing oleh fitnah dan adu domba yang dilakukan oleh seseorang yang beralamat e-mail tqn_ikhwan@yahoo.co.id yang ternyata BUKAN Ikhwan TQN. Pembahasan ini dilakukan karena di dorong nasihat Imam Al Gazali, dalam Risalah at-Tasawwuf yang menyatakan “Pendakwah yang menyesatkan adalah hantu-hantu gentayangan yang mengajak pergi manusia dari jalan keselamatan, untuk kemudian diajak ke tempat yang seram, lalu mereka dibinasakan. Karena itu, mereka harus menjauhi dakwah semacam ini dan orang yang memberikannya, karena meskipun nasihat-nasihatnya bermanfaat secara agama, nasihat itu tidak mampu menghindarkannya dari tarikan setan. Barangsiapa mempunyai tangan dan kekuasaan, maka wajib baginya menurunkan pendakwah semacam ini dari mimbarnya dan mencekalnya supaya tidak bergaul dan mempengaruhi orang. Melakukan ini termasuk perintah agama.”

    Catatan Khusus: Ditujukan kepada orang dungu dan hasud macam tqn_ikhwan@yahoo.co.id untuk menambah wawasan kamu:
    Hipotesis bukanlah kesimpulan, hipotesis adalah dugaan kuat yang harus dibuktikan menjadi suatu kesimpulan, dalam ilmu mantiq hipotesis adalah tingkatan yakin yang disebut dengan dzon. Tingkatan yakin dimulai dari wahm (25% yakin), syak (50% yakin), dzon (75% yakin), yaqin atau qath’i(100% yakin), sementara artikel tqn_ikhwan@yahoo.co.id mencapai tahap wahm pun belum, tetapi karena hasud dalam dada yang didahulukan tqn_ikhwan@yahoo.co.id langsung memberikan justifikasi dan memvonis fihak lain sebagai terhukum dan menyeret nama Ustadz terkenal sebagai bahan fitnahnya

    I. REFERENSI

    A. REFERENSI PERTAMA dari Imam Al Gazali, “Risalah at-Tasawwuf”
    a. Makna Seorang Syekh atau Mursyid
    Makna mendidik bagi seorang mursyid menyerupai pekerjaan seorang petani, yaitu sama dalam kemampuan mencabut duri dan rerumputan, kemudian mengeluarkan tanam-tanaman sampingan di sekitarnya yang sekiranya mengganggu tanaman pokok, sehingga tanaman yang dipelihara menjadi baik dan buahnya sempurna. Seorang syekh atau mursyid terhadap salik atau muridnya harus mampu menunjukkan dan mengantarkannya kejalan Allah, karena Allah telah mengutus seorang Rasul (utusan) kepada hamba-hambaNya agar menunjukkan mereka ke jalan Allah. Ketika Rasulullah saw. wafat, kedudukannya sebagai guru dan penuntun umat digantikan oleh para khalifahnya yang terpilih. Para khalifah ini mendidik dan mengantarkan umat kejalan Allah. Dengan demikian, para khalifah Rasul juga mempunyai peran sebagai guru, mursyid, syekh atau pendidik.

    b. Syarat Seorang Syekh atau Mursyid
    Syarat seorang syekh atau mursyid yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw. haruslah orang yang alim. Akan tetapi, tidak setiap orang yang alim patut menduduki jabatan khalifah atau pengganti Rasulullah. Di bawah ini akan dijelaskan sebagian tanda orang alim yang pantas menjadi mursyid, agar tidak setiap orang yang alim mengaku-ngaku mursyid.

    1. dia tidak mencintai dunia, jabatan dan kehormatan;
    2. diapun telah dididik ditangan mursyid juga. Ia mengikuti mursyid yang memiliki penglihatan batin dan mursyidnya bersambung ke mursyid-mursyid sebelumnya hingga mata rantainya sampai kepada Rasulullah saw.;
    3. dia senantiasa melatih jiwanya dan menjalankan riyadlah dengan sedikit makan, minum, bicara dan tidur
    4. dia banyak melakukan shalat sunnah, sedekah dan puasa;
    5. dia dikenal memiliki akhlak yang terpuji berupa sabar, tekun, syukur, tawakkal, yakin, berjiwa tenang (tumaninah), qana’ah, dermawan, tawadu’, rendah hati, alim, jujur, punya rasa malu, tepat janji, wibawa, lembut dan tenang,
    6. dia disucikan dari akhlak tercela seperti takabur, kikir, hasad, dengki, tamak, panjang angan-angan, gegabah dan sebagainya
    7. dia harus terhindar dari fanatisme dari perasaan tak butuh ilmu dari yang lain karena merasa cukup dengan ilmunya sendiri (istagna)

    maka ia adalah cahaya dari pancaran cahaya-cahaya Rasulullah saw. Orang yang seperti ini layak diikuti dan dijadikan mursyid. Akan tetapi, untuk menemukan yang seperti ini sangat sulit dan memang jarang. Sebab, banyak orang yang mengaku mursyid, tetapi pada dasarnya dia hanya mengajak manusia kepada permainan dan perbuatan yang tak berguna. Bahkan, ada atheis yang mengaku sebagai mursyid dengan menyimpang dari syari’ah.

    Karena banyaknya orang yang mengaku mursyid, para mursyid yang sesungguhnya menjadi tersembunyi. Dengan beberapa hal yang telah kusebutkan, akan diketahui mursyid yang hakiki, yaitu yang tak menyimpang dari hal di atas. Tetapi jika menyimpang dari hal di atas, maka dia hanya orang yang mengaku sebagai mursyid.

    Di antara kebahagiaan yang paling bahagia adalah menemukan mursyid atau syekh seperti yang yang tanda-tandanya kami sebutkan di muka, dan terlebih jika dia menerima sebagai muridnya. Jika sudah menemukannya, maka murid wajib memuliakannya secara zahir dan batin.(Imam Al Gazali, “Risalah at-Tasawwuf”)

    B. REFERENSI KEDUA dari Muhammad Zaki Ibrahim “Abjadiyyah At-Tashawuf Al-Islami”, judul terjemahan “Tasawwuf Salafi”, Penerbit Hikmah, Bandung, 2002
    Seorang murid tidak dilarang untuk mempunyai lebih dari seorang syaikh (guru) untuk menambah pengetahuan dan wawasan keagamaan. Tetapi mereka melarang seorang murid mengumpulkan beberapa jalan (mursyid) menuju Allah Swt. sebagaimana seorang makmum dilarang untuk mengikuti dua imam sekaligus. Hal ini seperti juga seorang yang sakit dilarang untuk mencampur obat dari beberapa orang dokter.
    Pendidikan berbeda dengan ilmu pengetahuan. Ilmu adalah sesuatu yang saling melengkapi, sedangkan suluk adalah tempat mata air yang berbeda-beda. Dalam suluk terdapat status kebapakan secara ruhani. Tidak mungkin seseorang mempunyai dua orang bapak, meski kecintaan kepada bapak tidak menjadi penghalang untuk mencintai paman atau bibi serta menghormati mereka.
    Jika seorang murid, sebelum mencapai kesempurnaan-nya dalam suluk, ternyata sang syaikh meninggal dunia, maka boleh baginya—dalam kondisi seperti itu—mengambil syaikh lain sebagai pembimbingnya untuk menuntaskan perjalanannya. Begitu pula, jika ternyata syaikh yang dianggap dapat menunjukkan jalan baginya ternyata adalah seorang yang bodoh, atau melenceng dari agama, maka seorang murid harus mencari syaikh lain sebagai mursyidnya.
    Seorang murid yang telah menuntaskan perjalanan dan telah mencapai status (maqam) tertentu dalam perjalanan ruhaninya, maka boleh baginya untuk menerima beberapa orang syaikh untuk tabaruk kepada mereka. Namun ia tetap tidak boleh meninggalkan tarikatnya yang telah menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya. Begitulah perjalanan para ulama sufi, baik dari golongan salaf maupun khalaf. Hal tersebut dapat dilihat dari fakta sejarah, di mana mereka mendapatkan banyak ijazah dari beberapa orang syaikh. (Muhammad Zaki Ibrahim “Abjadiyyah At-Tashawuf Al-Islami”, judul terjemahan “Tasawwuf Salafi”, Penerbit Hikmah, Bandung, 2002)

    C. REFERENSI KETIGA dari Mejar (b) Abu Dzar, “Taqwa”, Penerbitan Minda Ikhwan, Selangor, 2005
    Tetapi di sinilah ramai yang tidak faham termasuk alim ulama. Sesetengah mereka berkata, “Kalaulah kita sudah berguru di satu tempat, janganlah lagi kita berguru di tempat lain.”
    Ini satu kesilapan dan fahaman yang salah. Sebenarnya guru mursyid sahaja yang tidak boleh ramai. Guru mursyid mesti seorang sahaja. Tetapi kalau muallim atau guru sumber ilmu, lebih ramai lebih baik kerana lebih banyak saluran untuk dapat ilmu. Kalau ada tiga puluh orang guru, ada tiga puluh saluran. Imam Ghazali r.h. ada 1000 orang gurunya. Guru pimpinan, guru mursyid, tempat rujuk dalam semua hal hanya seorang sahaja. Dalam sebarang hal mesti dirujuk kepadanya termasuklah dalam perkara yang harus. Walaupun perkara itu harus dalam syariat, tetapi untuk mendapat berkat mesti bertanya kepadanya. Lebih-lebih lagi kalaulah ia sudah jadi arahannya maka wajib ditaati.(Mejar (b) Abu Dzar, “Taqwa”, Penerbitan Minda Ikhwan, Selangor, 2005)

    D. REFERENSI KEEMPAT dari Ajid Thohir, “Gerakan Politik Kaum Tarekat”, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002
    Keragaman aliran tarekat yang dimiliki beberapa ulama di Makkah sekitar abad ke-17 atau 18 M merupakan suatu pemandangan umum yang hampir lazim ditemukan. Sehingga satu orang ulama bisa menguasai berbagai metode tarekat, sekaligus bisa mengembangkannya dalam berbagai formulasi, sebagaimana Syaikh Ahmad Khathib Sambasi.
    Dalam menyempurnakan formulasi tarekatnya, Syaikh Ahmad Khathlb Sambasi tampaknya masih menggunakan metode-metode tarekat lainnya, sebagaimana yang diakuinya dalam risalahnya yang ia namakan Fath al- ‘Arifin. la menyatakan sebagai berikut:
    “Semula tarekat kami ini dibangun atas rangkain huruf “naqthujimin,” Maka barangsiapa tidak mendatangi kami dan mengambil dia (tarekat ini) pada kami, dia pasti menyesal.
    Huruf “nun” bermakna tarekat Naqsyabandiyah
    Huruf “qaf” bermakna tarekat Qadiriyah
    Huruf “tha”‘ bermakna tarekat Anfasiyyah
    Huruf “jim” bermakna tarekat al-Junaidiyyah
    Huruf “mim” bermakna tarekat al-Muwafaqah.”
    Kelima tarekat yang disebutkan di atas sebenarnya telah mendapat tempat dan porsi yang sama pentingnya dalam pengamalan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, terutama bagi kalangan mursyid-mursyidnya. Seluruhnya memiliki kelebihan dalam menyempurnakan dan melengkapi metode spiritual, untuk mengarahkan agar setiap orang selalu ingat kepada Allah dan mendekatkan diri ke hadirat-Nya. Tetapi, mungkin karena akibat tekanan amalannya, terutama bagi tingkat pemula (mubtadi’in) lebih mementingkan pada zikir jahr dan zikir khafiy pada setiap selesai salat fardhu —yang keduanya merupakan inti ajaran Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah—maka tarekat ini lebih mudah dinamai dengan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, karena memang kedua metode zikir itu adalah formulasi dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.
    Pada Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, nama Qadiriyah didahulukan dari Naqsyabandiyah. Hal ini nampaknya didasarkan atas silsilah yang selalu digunakan Khathib Sambasi ketika mengajarkan tarekat ini kepada murid-muridnya. Karena Syaikh Syamsuddin, guru spiritual (mursyid) Khathib Sambasi, berasal dari kelompok Tarekat Qadiriyah, yang tentu akan disebutkan lebih dulu. Sehingga kemudian, murid-murid Khathib Sambasi pun mengembangkan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia dengan bersumber pada silsilah Tarekat Qadiriyah, bukan Tarekat Naqsyabandiyah.(Ajid Thohir, “Gerakan Politik Kaum Tarekat”, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002)

    II. RANGKUMAN:
    1. Mursyid adalah guru pembimbing spiritual.
    2. Syarat seorang syekh atau mursyid yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw. haruslah orang yang alim. Akan tetapi, tidak setiap orang yang alim patut menduduki jabatan khalifah atau pengganti Rasulullah.
    3 Tidak boleh seseorang memiliki lebih dari satu mursyid.
    4. Guru mursyid hanya seorang, tetapi tak ada larangan untuk memiliki guru lain.
    5. Seorang murid yang telah menuntaskan perjalanan dan telah mencapai status (maqam) tertentu dalam perjalanan ruhaninya, maka boleh baginya untuk menerima beberapa orang syaikh untuk tabarruk kepada mereka. Namun ia tetap tidak boleh meninggalkan tarikatnya yang telah menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya.
    6. Syaikh Ahmad Khathib Sambasi adalah seseorang yang telah mencapai Maqam yang tinggi, sehingga beliau memiliki beberapa orang syaikh Namun ia tetap tidak meninggalkan tarikatnya yang telah

    menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya, karena Syaikh Syamsuddin, guru spiritual Khathib Sambasi, berasal dari kelompok Tarekat Qadiriyah. Sehingga kemudian, murid-murid Khathib Sambasi pun mengembangkan Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia dengan bersumber pada silsilah Tarekat Qadiriyah, bukan Tarekat Naqsyabandiyah.

    III. LATAR BELAKANG
    Di dalam pola pendidikan islam salafiyah (pola tradisional – jangan tertukar dengan istilah salafi wahabiyah), setiap murid yang telah menamatkan pangajarannya biasanya diberi ijazah. Saat pemberian ijazah dan juga pada saat penerimaan sebagai murid, sudah barang tentu berkaitan dengan bay’at (pelantikan, initiation). Hanya yang telah mendapatkan ijazah saja yang berhak untuk mengamalkan dan mengajarkannya kembali serta menisbatkan diri kepada perguruannya (catatan: dalam dunia pendidikan modern pun demikian, seseorang takan dijinkan praktek dokter tanpa ijazah dokter).

    IV. HIPOTESIS TENTANG BAY’AT: (hipotesis pribadi penulis)
    Syaikh Ahmad Khathib Sambasi memiliki lima ijazah tarekat, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu tarekat “naqthujimin”, sehingga tentu saja diberi bay’at (pelantikan, initiation), dari masing-masing tarekat. Meskipun demikian bukan berarti Syaikh Ahmad Khathlb Sambasi memiliki lima orang mursyid. Syaikh Ahmad Khathlb Sambasi hanya memiliki satu Mursyid yaitu Syaikh Syamsuddin. Syaikh Khathib Sambasi diizinkan mendapatkan lebih dari satu ijazah tarekat karena beliau telah mencapai maqam yang tinggi dalam perjalanan ruhaninya.
    Syaikh Tajul Arifin mendapatkan bay’at dan ijazah dari Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani karena Syaikh Tajul Arifin telah mencapai maqam yang tinggi, ini bisa dilihat ketika Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani memuji bahwa Syaikh Tajul Arifin adalah salah seorang yang memiliki Nur Muhammad.
    Dasar pemikiran hipotesis ini adalah:
    “Keragaman aliran tarekat yang dimiliki beberapa ulama di Makkah sekitar abad ke-17 atau 18 M merupakan suatu pemandangan umum yang hampir lazim ditemukan. Sehingga satu orang ulama bisa menguasai berbagai metode tarekat, sekaligus bisa mengembangkannya dalam berbagai formulasi, sebagaimana Syaikh Ahmad Khathib Sambasi.” (Ajid Thohir, “Gerakan Politik Kaum Tarekat”, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002)
    “Seorang murid yang telah menuntaskan perjalanan dan telah mencapai status (maqam) tertentu dalam perjalanan ruhaninya, maka boleh baginya untuk menerima beberapa orang syaikh untuk tabaruk kepada mereka. Namun ia tetap tidak boleh meninggalkan tarikatnya yang telah menghantarkannya menuju derajat-derajat yang telah dilaluinya. Begitulah perjalanan para ulama sufi, baik dari golongan salaf maupun khalaf. Hal tersebut dapat dilihat dari fakta sejarah, di mana mereka mendapatkan banyak ijazah dari beberapa orang syaikh.” (Muhammad Zaki Ibrahim “Abjadiyyah At-Tashawuf Al-Islami”, judul terjemahan “Tasawwuf Salafi”, Penerbit Hikmah, Bandung, 2002)

    V. KESIMPULAN :
    Untuk sementara saya tidak membuat kesimpulan, karena saya merasa data yang ada masih belum cukup lengkap, yaitu belum mendapatkan data primer, sementara referensi hanyalah data sekunder Oleh karena itu kesimpulan sementara saya serahkan pada pembaca salikin sekalian, dengan beberapa catatan:
    1. Mengutamakan husnudzon.
    2. Pembahasan dengan ilmu, bukan dengan emosi sesaat.
    3. Lebih baik diskusi secara tertutup dan hanya untuk intern.
    4. Apapun kesimpulan pribadi para pembaca salikin sekalian, jangan dikaitkan dengan lembaga, apalagi untuk menyerang lembaga lain seperti yang dilakukan oleh tqn_ikhwan@yahoo.co.id, karena bukan wewenang siapapun untuk membuat pernyataan tentang apa yang terjadi antara dua orang waliyuloh kecuali mereka berdua atau orang yang diberi mandat.

    Wallahu ‘alam

    Akhir kata, penulis berdo’a agar Allah Swt memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua

    Kepada pelaku dan penyebar fitnah dan namimah secara langsung yaitu tqn_ikhwan@yahoo.co.id,
    “Sungguh Allah Hakim yang seadil-adilnya” أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

    Kepada penyebar fitnah dan namimah secara tidak sengaja yaitu admin blog ini yang dijebak oleh perbuatan tak terpuji tqn_ikhwan@yahoo.co.id, semoga Allah memberikan ampunan-Nya.

    Bila ada yang ingin berdiskusi dengan saya secara pribadi, silakan tanyakan alamat email saya kepada admin blog ini. admin blog boleh memberikannya secara tertutup.

  8. KENAPA SIH PADA RIBUT AND RIBUT MELULU ?? menurut saya sebaiknya semua pihak khususnya yang BELUM mengerti tentang apa itu bai’at, talqin, dan sebagainya…tanyakan kepada yang sudah ahliNYA, minimal kepada MEREKA yang sudah pernah tau atau merasakannya. Kita harus ingat bahwa ada 3 jenis watak manusia secara global (menurut gue yang faqir lho)..Pertama, manusia itu TIDAK TAU tapi SOK TAU…Kedua, manusia itu TAU, tapi NGGA MAU TAU…Ketiga, manusia terlalu tinggi EGO nya. Coba deh kalo mau berkomentar apapun khususnya tentang Islam…KUASAI dong semua MAZHAB…biar Tau + Ngerti apa yang sedang kita komentari… Minta Petunjuk kepada ALLAH SWT…ya, BAGEUR !!!! Wassalam

  9. anonym, salah euy anu bener mah.
    orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu nu kieu nu disebut jelema bodo.

    orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu, ieu mah budak.

    orang yang tahu dan tidak tahu bahwa dia dia tahu, eta mah jelema sare.

    orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, tah nu kieu nu disebut orang bijak teh.

    maneh asup kamana?
    anu jelas mah anu tara tatanya terus nyebarkeun fitnah mah jelema jahil kuadrat.
    ari ceuk sayah mah eer1 mah aya dasar referensina

  10. Ujang nu bageur…ulah sok kitu nya ! sok urang sasarengan instropeksi diri..upami abdi mah kumaha Pangersa..abdi mah jelema nu faqiir..teu aya nanaon na..ikhwan TQN teh kudu sabar..ceuk Abah oge..”Keun batur rek kumaha-kumaha mah, geningan Abah teu naon-naon”, saur Abah teh. Urang kudu inget ka Ulah nyalahken pangajaran batur..tos cekap ! Mangga urang sadaya khususna Ikhwan TQN Suryalaya..ieu teh cobaan ka urang..Bola itu bulat, tapi yang bulat belum tentu bola..??????

  11. andy…ulah hilap nya ! anjeun teh kudu sabar..anjeun oge kudu haqqul yaqin..sadaya di bumi jeung di langit teh tos diatur ku Allah Swt..

  12. Kang Andy, cing sabarnya, upami ningal comment di luhur mah, kang Andy mah teu lepat nanaon, ngan kagusur ku dosa batur. Abdi janten panasaran saha nya eta jalmi jail teh,? jeung nyabit-nyabit nami Ustadz Wahfiuddin deuih, kumahanya lamun anjeuna uningaeun?

  13. yah…semua kita pasrahkan sama alloh swt…karena ini dunia maya yang tidak ada batasan dan era demokrasi yang reformis bablas…yang penting kita tau sejauh mana TQN di mata khalayak umum…

  14. tah kitu…nu apal aya naon di suryalaya teh urang-urang kene..batur mah terang kulitna hungkul..keun wae batur rek naon-naon oge..ulah dikumaha-kumaha. upami aya nu bade terang naon lebetna suryalaya..kudu diterangkeun ku urang-urang…ulah ribut jeung ribut wae..teu di dunia maya atawa dimarana… keydah kitu ikhwan suryalaya teh…bageur…dakwah mah tos tiasa aya rintangannana…wassalumu….nu faqiir tea..

  15. kang ganjar…sanes abdi anu ngajak ka suryalaya…tapi ruh akang yang di panggil oleh pangersa Abah dan akang juga butuh kituuuuuuuuuuu…..

  16. KH. Wahfiudin adalah murid Syeh Nazim orang kpercayan Syeh bahkan ditunjuk tuk mendampingi menerjemahkan smua ucapan Syeh Nazim Slama berkunjung di Indonesia. KH. Wahfiudin tetah menegaskan tdak ada bai’at Abah Anom dengan Syeh Nazim. KH. Wahfiudin merasa perlu mengungkapkan ini semua jangan sampai ada kekeliruan/kesalah pahaman diantara kita semua.

    KEDUDUKAN SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN QS. (ABAH ANOM) DALAM PANDANGAN SAYYID MUHAMMAD BIN ‘ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI RA

    Kisah ini diambil dari majalah nuqthoh terbitan yang no 9 tanggal 26 januari 2010 M, hal 32 dengan judul “Mengenal Abah Anom melalui pandangan batinnya”
    MENGAKUI KEMULIAAN ABAH ANOM Kurang dari 40 hari menjelang wafatnya Beliau Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani ra. Salah seorang santrinya asal garut bernama KH. Dodi Firmansyah ditanya oleh almarhum. Kiyai muda asal Garut tersebut terperanjat saat al-‘alamah tersebut menanyakan sosok guru yang telah menanamkan kalimat agung dilubuk hatinya. Lebih terkejut lagi saat Ulama tersebut “tercekat” sewaktu disebutkan nama Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin. Secara sepontan Beliau menyebutkan bahwa Syekh ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman ( RAJANYA PARA WALI JAMAN SEKARANG ) bahkan beliaupun menyebutkan QODDASALLAHU SIRROHU bukan rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.

    BIOGRAFI SAYYID MUHAMMAD BIN ‘ALAWI AL-MALIKI RA

    Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam.Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah.
    Sekilas profil KH.Dodi Firmansyah Usianya masih muda kelahiran garut tahun 1978. Sejak usia SMP ia dikenal ahli hikmah sedangkan ketertarikan dalam dunia tasawwuf ia ke Pondok Pesanttren Suryalaya sejak dimulai kelas 4 SD . Kiayi ini pernah di didik langsung oleh almarhum Al-Alamah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ra di mekkah selama 6 tahun. Pulang mesantren dari mekkah pada tahun 2006, kiyai ini menikah dengan Hj.Siti Fatimah putrid seorang pengusaha asal tasik Malaya dan dikaruniai putra yang diberinama M.Lutfi L. Makki Majalah Noqthoh hal. 41: Pendapat KH.Dodi tentang sosok Pangersa Abah Anom : Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Cukuplah 2 pendapat Ulama kelas dunia yang mengomentarinya. Pertama ungkapan dari guru saya sendiri di mekkah, yaitu Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani ra. Beliau sendiri yang mengungkapkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs. Adalah Sulthon Awliya fi Hadza Zaman dan kedua Mursyid Kammil Mukammil Thoriqoh Naqsyabandi Al-Haqqani, As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani, sufi kenamaan dari Cyprus yang menyebutkan Pangersa Abah (Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs) adalah Sufi agung di timur jauh.
    Dalam majalah sintoris (Sinar thoriqoh islam) disebutkan As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ra mengatakan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah WALI AGUNG DITIMUR JAUH.. hal itu pernah disampaikan juga di kampus oleh KH.Wafiuddin setelah mendampingi syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ke P.P.Suryalaya.
    ini ada cerita menarik Subhan teman Dosen IAILM Suryalaya pernah berkunjung ke Martapura silaturahmi kepada Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan Dunia Tuan Guru A. Zaini Abdul Ghani Al-Idrus yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Ijai menceritakan bahwa Tuan Guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH.
    Bagi yang ingin berlangganan majalah tasawuf nuqthoh, sinthoris, atau tabloid tentang tasawuf robithoh.Bisa Hubungi Kiai Ayi abdul Jabbar dengan no. contak 081395124170.

  17. Ini ada cerita menarik dari Subhan seorang Dosen IAILM Suryalaya pernah berkunjung ke Martapura silaturahmi kepada Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan dunia As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Zaini Abdul Ghani Al-Idrus yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Ijai keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari bin Saiyid Abu Bakar bin Saiyid Abdullah al-’Aidrus bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman as-Saqaf bin Saiyid Muhammad Maula ad-Dawilah al-’Aidrus, dan seterusnya sampai kepada Saidina Ali bin Abi Thalib dan Saidatina Fatimah bin Nabi Muhammad SAW. Tuan Guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH.

  18. allohu akbar maha suci Alloh yang menciptakan kholifahnya dimuka bumi ini….alhamdulilah … insya alloh saya terbawa bersama beliau yang MULIA PANGERSA ABAH…amin…

  19. Subhan seorang Dosen IAILM Suryalaya pernah silaturahmi kepada Tuan Guru Ijai Martapura Kalimantan Selatan. Tuan guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH..

    Tuan Guru Ijai dikenal sebagai seorang Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan dunia nama lengkapnya Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh Muhammad Zaini Abd. Ghani ( Tuan Guru Ijai ) bin Al ‘arif Billah Syekh Abd. Ghani bin Syekh Abd. Manaf bin Syekh Muh. Seman bin Syekh. M, Sa’ad bin Syekh Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti Syekh. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah Syekh. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
    Seorang Wali besar Mufti Kesultanan Indragiri Syekh Abd Rahman Shiddiq, berpendapat bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

    Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arsyad_al-Banjari_bin_Abdullah_Al_Aidrus.

    ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Syekh M. Zaini Abd. Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara thariqat dan haqiqat, dan beliau seorang yang Hafazh AI-Quran beserta hafazh Tafsirnya, yaitu Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim Lil-Imamain Al-Jalalain. Beliau seorang yang “mahfuzh”, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT. beliau tidak pernah ihtilam.

    Pada usia 9 tahun di malam jumat beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Safinah al-Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jumat ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk beliau melihat masih banyak kursi yang kosong. Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut.

    Dalam usia 10 tahun sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa-apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Pernah rumput-rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dari beberapa penyakit, begitu pula batu-batuan dan besi.

  20. Bahwa menurut KH.Wahfiuddin salah satu Kiai Internasional yang selalu mengisi acara kerohanian di salah satu TV Swasta juga, Bahkan beliaulah yang mengantarkan Syekh Nazim.ra dan syekh Kabbany ra. ke Suryalaya. Beliau hadir disana sebagai penterjemah Syekh Nazim Al-Adil Al-Haqqani r.a . Dan KH. Wahfiuddin ini adalah salah satu juga orang kepercayaan Syekh Nazim ra. Menurut beliau : “Tidak adanya bai’at Abah Anom oleh Syekh Nazim ra.” Dan untuk lebih jelasnya silahkan hub. beliau untuk minta penjelasan dan tanyakan proses kenapa Syekh Nazim ra dan Syekh Kabbany datang ke Suryalaya. KH.Wahfiuddin pernah berceramah di kampus IAILM Suryalaya menerangkan bagaimana proses Syekh Nazim ra sehingga ingin sekali bersilaturahmi dengan seorang Mursyid Kammil Mukammil yang berada di Timur jauh (Pondok Pesantren Suryalaya). Ini salah satu karomah Syeh A. Shohibul Wafa Tajul Arifin jauh sebelum Syeh Nazim datang Syeh A. Shohibul Wafa Tajul Arifin telah mengabarkan akan kedatangannya dan terbukti beberapa tahun kemudian Syeh Nazim datang berkunjung menemui beliau….Subhanalloh.

    As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ra. telah menegaskan : Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari QOLBU SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, SULUTKAN NUR ILLAHI dari QOLBU BELIAU kepada qolbu anda masing-masing.
    Di hadapan beliau SAYA TERLALU MALU UNTUK TIDAK MENGAMBIL apa yang ada pada QOLBU BELIAU. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada qolbu saya sendiri.

    Salam Untuk Wali Mursyid

    السَّلَامُ عَلَيْكَ – Salam untukmu —
    يَا مَالِكَ الزَّمَانِ wahai penguasa zaman,
    وَ يَا إِمَامَ الْمَكَانِ pemimpin wilayah,
    وَ يَا قَائِمَ بِأَمْرِ الرَّحْمَانِ penegak ketentuan ar-Rahman,
    وَ يَا وَارِثَ الْكِتَابِ pewaris kitab,
    وَ يَا نَائِبَ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ wakil Rasulullah s.a.w.,
    يَا مَنْ مِنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ عَائِدَتُهُ yang selalu pergi pulang antara bumi dan langit,
    يَا مَنْ أَهْلَ وَقْتِهِ كُلُّهُمْ عَائِلَتُهُ yang orang-orang sezamannya adalah keluarganya,
    يَا مَنْ يُنَـزَّلُ الْغَيْثُ بِدَعْوَتِهِ yang diturunkan pertolongan karena doanya,
    وَ يُدَرُّ الضَّرْعُ بِبَرَكَتِهِ – yang dikucurkan limpahan susu karena keberkahannya —
    وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ – الْفَاتِحَةُ beserta rahmat Allah dan keberkahanNya, al-Fatihah…

  21. Yang sekarang jadi rame adalah Ajengan Gaos mengakui dia mursyid sebagai pengganti abah anom,tapi anehnya ucapannya tidak mencerminkan seorang mursyid contohnya sewaktu ajengan gaos di sirnarasa ceramahnya menyerang TQN jakarta” Tidak ada tqn jakarta yang ada TQN suryalaya.sambil melirik jaket TQN Jakarta yang dibawa ajudannya..menurut saya itu penyerangan kepada Ajengan Wahfiudin.Seharusnya ajengan gaos tidak usah ngomong begitu . TQN jakarta sudah ada sejak abah masih ada dan abah anom tidak pernah berkata apa – apa tentang TQN jakarta…bukankah itu hanya sebuah jaket..jaket yang bertuliskan TQN jakarta…tidak ada yang salah .TQN jakarta bukan lembaga seperti suryalaya. TQN jakarta hanya sebuah tulisan yang ada pada Jaket. Ngapaian ajengan gaos ngeributin itu…ngaga ada yang lain apa? Apakah ajengan gaos sudah lupa tanbih dari suryalaya “Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).?..Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan -Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956 TTD (KH.A Shohibulwafa Tadjul Arifin). UNTAIAN MUTIARA :
    Jangan membenci kepada ulama yang sejaman
    Jangan menyalahkan kepada pengajaran orang lain
    Jangan memeriksa murid orang lain
    Jangan mengubah sikap walau disakiti orang
    Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu
    Ajengan gaos Mursyid masa masih dengki / menjelek -jelekan orang. Saya simpulkan sampai detik ini belum ada mursid baru yang kamil mukamil. Kalo hanya sekedar mursyd banyak banget tapi mursyid yang seperti Abah Anom ( Insan Kamil )….EWeuhhhhhh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s